Miris memang jika berita politik yang disajikan oleh beragam media hanya memihak kubu sebelah. Akibatnya, pembaca pun diarahkan menjadi 2 manusia, yakni sebagai penghujat atau pemuja. Pilihan alternatifnya masuk ke ranah putih dan abu-abu. Biar tidak memihak salah satu, suatu media atau tokoh berpengaruh (influencer) perlu memenuhi 4 syarat ini.

  1. Memiliki Kebebasan Absolut saat Mengeluarkan Pendapat

Netralitas hanya bisa diwujudkan jika mampu lepas dari belenggu saat mengeluarkan pendapat. Agaknya, ini yang sulit dilalui oleh para influencer maupun media mainstream. Padahal, kebebasan berpendapat sudah diatur dalam Undang-Undang. Namun, sebagaimana biasanya, politik hampir selalu dipenuhi dengan intrik-intrik.

Maklum, para pegiatnya hampir semua berstatus sebagai kaum intelektual. Kebebasan berpendapat bisa terkekang oleh berbagai sebab. Mulai dari iming-iming uang puluhan juta Rupiah, ancaman dari suatu pihak, hingga inkonsistensi dalam menciptakan konten. Khususnya konten berkualitas. Apalagi ketika ingin media tetap aktif apa pun yang terjadi.

  1. Muncul secara Independen

Berdasarkan terminologinya, independen bermakna mampu berdiri sendiri atau berjiwa bebas. Begitu muncul ke permukaan, sudah memiliki jiwa idealis. Apa pun yang dituliskan, berdasarkan sumber data yang valid dan objektif. Jadi, apa yang disampaikan kepada para pembaca betul-betul bermanfaat. Bukan sekadar memantik sisi emosional para pembaca.

Biasanya, media atau portal seperti ini digagas oleh para seniman. Maklum, sejak dahulu kala, jiwa seniman tidak mudah dibeli. Hampir semuanya berjiwa idealis. Jadi, mereka bergerak di pinggiran. Ketika ada yang salah, maka perlu diperbaiki. Apabila benar, maka perlu dibela. Sayangnya, para seniman cenderung kekurangan biaya saat mengelola media.

Bahkan dalam konteks modern, segala aktivitas yang menyangkut para seniman cenderung diabaikan oleh elite politik. Para seniman hanya bergantung dari siapa yang peduli dengan suaranya. Miris memang. Alhasil, kemunculan berita politik di permukaan lebih banyak yang tidak jelas arah bicaranya. Lainnya cenderung memihak salah satu idola politik.

  1. Mengulas Kabar yang Apa Adanya

Untuk mempermanis tulisan, kerapkali media mainstream memberi bumbu seperti tajuk yang kontroversial dan provokatif. Perihal isi, dinomor-sekiankan. Padahal, para pembaca perlu tercerdaskan dengan seringnya membaca berita via media cetak maupun daring. Mudah-mudahan ke depannya kabar yang mengulas suatu peristiwa politik bisa lebih netral lagi.

Jujur atau apa adanya memang berat. Sebab bertentangan dengan dorongan pribadi. Jika memberitakan apa adanya, maka tiada elite politik yang luput dari kritik maupun apresiasi. Semuanya mendapatkan porsi yang sama. Berita yang disajikan pun lebih objektif. Hanya saja, berita yang seperti ini memang cenderung minim peminatnya.

Sebab, para pembaca secara umum lebih suka dengan konten yang berbau kontroversial dan provokatif. Aliran dana pun mengalir deras untuk kedua tipe konten tersebut. Hal yang sama terjadi di arena Youtube, yakni saat video receh lebih banyak ditonton dibandingkan video edukatif. Bahkan sebagian besar masuk dalam trending atau video populer.

  1. Kembalikan Lagi ke Perspektif Pembaca

Beruntung, saat ini para pembaca sudah banyak yang cerdas dalam menganalisis suatu peristiwa politik. Meskipun berita yang ditampilkan hanya hoax, mereka bisa mendeteksi. Hanya saja, jumlah pembaca seperti itu masih kalah banyak dari pembaca yang menelan bulat-bulat suatu informasi. Miris, tapi apa boleh buat.

Terlalu banyak berita politik yang berkonotasi negatif telah mengelabui nalar para pembaca. Alhasil, berita yang disajikan secara baik-baik pun masih dianggap kurang reliabel. Padahal sudah berbasis fakta yang akurat. Indonesia memang perlu sekali banyak sosok yang mampu mengedukasi rakyat sebaik-baiknya perihal politik ini. Siapa yang bersedia?.